Showing posts with label Layar Sentuh. Show all posts
Showing posts with label Layar Sentuh. Show all posts

Samsung I5500 Galaxy 5 review Disain, Display dan Kamera

Walau sudah memiliki sistem operasi sendiri, Samsung nampaknya mencoba realistis dengan mengikuti trend pasar Android yang kini sedang sangat berkembang. Jadi, daripada mereka memaksakan produk Bada-nya masuk ke pasar yang belum siap lalu malah jadi tenggelam, produk dengan OS Android dengan banderol murah akhirnya menjadi pilihan.

Disain dan Display
Desain Galaxy 5 tidak nampak seperti ponsel mahal, alias sesuai dengan harganya. Bahan yang digunakan adalah plastik yang agak licin di tangan, serta agak lebar. Mungkin ini dimaksudkan untuk mengakomodasi kebutuhan layar sentuhnya.
Namun begitu, bagian muka ponsel ini masih dilengkapi beberapa tombol seperti menu, home, back, Search, penjawab panggilan, penolak panggilan sekaligus tombol daya & kunci layar, serta tombol navigasi 5 arah, tombol navigasi ini paling berguna jika anda ingin mengoreksi karakter yang salah ketika sedang menulis pesan. Maklum, menyentuh bagian yang presisi di antara huruf-huruf yang kecil dengan jari tentu bukan perkara mudah.

Karena secara umum tampilan antarmukanya tergolong mirip dengan ponsel Android 2.1 lainnya, maka langsung saja memberikan penilaian terhadap satu hal mengganggu yang selama proses pengetesan berulang kali terjadi, yakni mengenai tombol kunci layar yang menyatu dengan tombol daya. Begini. Dari versi-versi awal hingga kini, Samsung memfungsikan tombol tersebut untuk kembali ke home alias layar utama secara cepat. Namun di ponsel Androidnya kali ini, berhubung Samsung tidak memisahkan tombol daya seperti di Galaxy S, maka jadilah tombol ini berfungsi juga sebagai pengunci layar.


Jika anda pengguna lama Samsung, mungkin anda akan mengalami seperti apa yang dialami saat pengetesan. Ketika sedang masuk menu dan ingin keluar, alih-alih kembali ke layar home yang terjadi malah mengunci layar. Memang, untuk keperluan ini sudah disediakan tombol khusus.
Namun namanya juga kebiasaan, pasti sedikit merepotkan untuk membiasakan diri dengan ponsel ini. Lebih jauh, prosesor 600 Mhz membuat kinerjanya terasa biasa-biasa saja.

Kamera
Kameranya hanya 2 MP, dan tanpa dilengkapi lampu kilat. Hasilnya pun tidak dapat banyak diandalkan. Kamera yang disematkan di Galaxy 5 ini mungkin lebih cocok untuk pelengkap dokumentasi aktivitas jejaring sosial anda. Karena dengan aplikasi khusus Android, mengunduh foto jadi begitu mudah. Apalagi dilengkapi dengan Geo-tagging sehingga lokasi tempat mengambil gambar bisa dilacak di kemudian hari.
Meski begitu bukan berarti hasilnya buruk. Misalnya ketika mencoba menangkap suasana di stasiun Gambir pada sore hari, hasil foto mampu menghasilkan gambar sesuai dengan yang diinginkan. Tentu ini tergantung angle dan beberapa faktor teknis lainnya.
Namun untuk foto dalam ruang, hasilnya nampak agak over, sehingga warna-warna yang keluar kurang natural. Anda bisa bersenang-senang juga dengan fitur smile shot-nya. Ketika dicoba, kamera akan membaca gerakan senyuman di wajah. Kalau belum berhasil, ulangi saja senyuman anda setelah hitungan ketiga, misalnya, lalu tahan beberapa saat. Pastikan juga obyek tidak terlalu banyak bergerak.


Selanjutnya review Audio, Konektivitas dan Fitur
Selanjutnya...

Sony Ericsson E15i Xperia X8, review Kamera, Audio, dan Fitur

Xperia X8 termasuk ponsel Android kelas menengah yang cukup menggiurkan. Dengan harga terjangkau, seri ini tergolong kaya fitur dengan inovasi interface untuk mempermudah penggunanya. Setidaknya, kalangan yang merindukan Android murah dengan fasilitas cukup mewah bisa memilihnya.

Dengan beberapa Android sekelasnya, Sony Ericsson Xperia X8 memiliki daya saing yang cukup tinggi. Namun, ada beberapa hal yang patut dicermati seperti kelemahan sektor kamera, kemampuan browser standar serta komponen casing standar.
Kamera
Pengaturan kamera ponsel ini hampir menyerupai X10 mini. Simpel dengan empat preset untuk foto (Auto, Beach/snow, Twilight dan Sports) dan dua mode kualitas untuk kamera (Normal dan For MMS). Dibandingkan X10 Mini (5 megapiksel), kamera X8 mengalami penurunan menjadi 3 megapiksel (2048x1536 piksel). Tapi harap dicatat, layar X8 lebih lebar dan resolusinya meningkat dua kali. Kualitas gambar setidaknya jadi lebih baik saat dilihat di layar.
Saat dijajal memotret dalam kondisi outdoor, memang cukup cerah dan fokus. Namun, tingkat ketajamannya kurang begitu baik. Sementara dalam kondisi dalam ruangan gambar cenderung kurang tegas dengan bintik noise menghiasi di sana-sini.

Soal video, kamera ponsel ini bisa merekam VGA video pada 30 frame per second. Tentu saja kualitasnya tergolong standar meski dalam kondisi bergerak Anda akan mendapatkan hasil yang kurang fokus.

Audio
Pemutar musik pada Sony Ericsson Xperia X8 sama dengan X10 Mini. Tak terlalu bagus lantaran fungsi yang ditawarkan terbatas. Tak ada equalizer preset atau skin alternatif pada pemutar musik X8. Hal menarik dari pemutar musik ini adalah keberadaan tombol Infinite yang bisa membantu mencari lagu langsung dari YouTube atau di PlayNow. Anda juga bisa memanfaatkan TrackID untuk mendengarkan contoh lagu dan mencari informasinya.

Anda bisa mendengarkan lagu yang diputar dari loudspeaker yang terletak di belakang bodi. Suaranya tergolong nyaring dan `nendang' untuk ukuran ponsel Android. Lebih puas lagi bila mendengarkan lagu via headset yang kompatibel dengan standar 3,5 mm. Uniknya, port audio 3,5 mm pada ponsel ini memiliki bentuk unik yang kabarnya didesain untuk mengakomodasi headset khusus Hi-Fi Sony Ericsson MH-810. Headset ini bisa beroperasi dengan remote kontrol khusus.

Radio FM menjadi pilihan yang tak kalah menggiurkan di sektor audio. Sebelum menyetelnya, Anda harus menancapkan headset yang berfungsi sebagai antenna. Seperti radio FM Sony Ericsson umumnya, fitur ini sudah mendukung RDS.

Fitur
Timescape menjadi aplikasi yang turut melengkapi user interface X8. Lewat fitur ini, tanpa harus mengakses menu Lain, pengguna bisa menampilkan update Twitter, Facebook, miscall atau email dari satu lokasi saja.

Untuk mengakses situs jejaring sosial, Sony Ericsson Xperia X8 juga sudah mengemas aplikasi Facebook. Lantas tersedia fitur GPS yang didukung aplikasi Google Maps. Juga tersedia fitur standar Android mulai dari GoogleTalk, Android Market, Gmail dan YouTube. Aplikasi pilihan lain seperti Data Monitor, CreateTouch, Navigation, WisePilot, RoadSync sudah melengkapi ponsel ini. Termasuk juga aplikasi standar yang biasa ditemukan dalam ponsel seperti kalendar dan kalkulator.

Untuk keperluan penyimpanan aplikasi tambahan, X8 sudah disupport dengan memori internal sebesar 170 MB. Jika dirasa masih belum cukup Sony Ericsson sudah menyiapkan slot kartu memori micro SD bertipe hot swap. Namun, Anda harus membuka casing belakang untuk menyisipkan kartu.
Selanjutnya...

iPhone 4, review App Store, iPod, Koneksi, Kamera dan Baterai

Melihat harganya yang masih mahal dan dengan melihat kenyataan bahwa belum ada operator resmi Tanah Air yang menggandengnya secara resmi, aman rasanya jika menahan dulu keinginan Anda untuk membelinya. Apalagi jika Anda sudah memiliki iPhone 3GS. Upgrade saja OS-nya ke iOS4 untuk merasakan fitur-fitur iPhone 4.

Kemampuannya yang khas iPhone memang sudah tidak perlu dipertanyakan lagi. Meski kadang terasa tertinggal beberapa tahun dari ponsel lain, hal-hal yang bersifat tampilan, misalnya desain dan display sudah mendapat perhatian lebih dari Apple.

App Store
Jika setahun lalu akun asal regional Indonesia tidak diberi keleluasaan mengakses iTunes Store, maka kali ini sudah bisa. Anda bisa mendownload video podcast, serial video pendek dan sebagainya dengan akun Indonesia. Tapi, masih ada tapinya lagi nih. Akun Indonesia belum bisa untuk mendownload konten musik berbayar milik iTunes. Alias masih sebatas mendownload podcast gratisan saja.

Sementara itu, tidak ada masalah di sisi App Store. Seperti biasa, Anda bisa mendownload aplikasi berbayar maupun tidak, lalu menginstalnya di iPhone Anda. Masih sama dengan pengalaman App Store di ponsel-ponsel Apple sebelumnya.

iPod
Setiap penggemar musik pasti kenal dengan yang namanya iPod. Perangkat pemutar musik bikinan Apple ini terkenal dengan kualitas playback dan display-nya. Seperti biasa iPhone menyertakan fitur ini sebagai salah satu unggulan utama.
Tidak banyak perkembangan di sisi kualitas musik ketimbang iPhone 3Gs, namun jika Anda bicara loud speaker, maka speaker iPhone 4 ini terasa sedikit mengalami peningkatan kualitas.

Koneksi
Ponsel ini dilengkapi koneksi yang lengkap. Ketika kita berada di jangkauan WIFi, maka gunakan WiFi berkecepatan tinggi 801.11 b/g/n. Apabila kita tidak dalam hotspot, maka pilihannya adalah menggunakan jaringan HSDPA. Yang pasti Anda harus selalu terhubung dengan internet untuk bisa memantau semua email dan messenger.

Kekurangan utama terletak pada ketidakmampuan ponsel ini dalam menerima dan berkirim file via Bluetooth. Pasrah? Jangan dong! Masih ada aplikasi yang memungkinkan hal ini terjadi, tapi kita harus membelinya dulu di App Store. Kabar gembiranya kita masih bisa mendengarkan musik via A2DP.

Lalu bagaimana dengan sifat koneksi USB-nya yang membutuhkan sinkronisasi dengan perangkat tertentu? Masih sih. Tapi dengan iOS4-nya yang baru ini, kita tidak lagi perlu kehilangan file musik ketika disinkronisasikan dengan perangkat komputer berbeda. Ada proses backup yang berlangsung. Tapi ya, kalau mau nambah musik masih sedikit repot.

Video Call
Teknologi ini sudah lama ada di ponsel-ponsel 3G generasi pertama. Bahkan ketika iPhone 4 muncul dengan fitur kamera depan, layanan video call rasanya sudah berkurang popularitasnya. Setidaknya untuk sebuah iPhone, ini adalah hal baru. Khusus di iPhone 4, layanan video call masih berbasis internet via jaringan WiFi. Mirip dengan Skype. Kabarnya Apple masih tengah mengupayakan agar fitur ini dapat berjalan di lingkungan 3G juga. Namun yang pasti dengan perangkat sekecil ponsel, maka ketika kita menatap mata lawan bicara di layar, seakan-akan Anda melihat ke kameranya yang berada di sudut sempit. Akan memproyeksikan muka Anda di layar lawan bicara yang tengah menatap mata mereka.

Bandingkan jika Anda melakukan video chat di komputer, ketika melihat lawan bicara, maka kita tidak melihat kamera, sehingga yang terlihat oleh lawan bicara, kita tengah menatap bidang yang lain.
Sayangnya fitur ini masih belum dapat digunakan di iPhone 4 kami, meskipun WiFi sudah aktif, dan nomor ponsel sudah tercatat. Apakah ini pertanda FaceTime belum bisa digunakan di Indonesia, atau membutuhkan iPhone 4 lain agar bisa terhubung, atau masalah ada pada operator yang digunakan.

Kamera
Sampai saat ini, besaran 5 megapixel pada kamera iPhone merupakan besaran resolusi kamera terbesar. Tapi tidak ada apa-apanya memang jika Anda membandingkannya dengan kamera ponsel dari pabrikan lain yang sudah mencapai 8 bahkan 10 megapixel. Tak ada yang dikeluhkan dari kemampuannya memotret.

Satu hal yang menarik adalah kemampuannya merekam video HD hingga 720p. Sejalan dengan diluncurkannya TV-TV HD, dan dukungan video HD di situs upload video seperti Youtube, maka ini adalah pertanda baik. Sayang memori yang dibutuhkan untuk menyimpan video HD lebih besar dari video kebanyakan. Terlebih ketika iPhone tidak menyediakan ruang tambahan untuk memori eksternal.
Untuk Anda yang masih membutuhkan informasi tentang keberadaan editor video atau foto di sebuah ponsel, di iPhone 4 ini sudah tersedia fitur editor video dengan melakukan trim. Tapi untuk foto, Anda perlu mendownload dan menginstal aplikasi yang lebih baik.

Baterai
Banyak faktor yang harus dipertimbangkan ketika mereview baterai. Secara kasat mata, baterai iPhone 4 sudah lebih baik dari iPhone 3Gs. Dengan pemakaian yang normal, plus email feed, messenger dan penggunaan kamera, ponsel ini bisa bertahan hampir dua hari. Hampir loh. Karena bagaimanapun jaringan HSDPA dan WiFi menyedot daya yang tidak sedikit. Bila dibandingkan dengan ponsel pintar dari kubu sebelah, semisal BlackBerry Bold 9700, maka pengalaman yang dirasakan, iPhone 4 memberikan daya tahan yang sedikit lebih baik. Sayangnya, seperti biasa kita tidak diberi keleluasaan untuk menggantinya dengan baterai cadangan misalnya.

Review sebelumnya: Disain, Retina Display dan Multitasking
Selanjutnya...

Sony Ericsson E15i Xperia X8, review Disain, Display, Sistem Operasi, dan Internet

Sony Ericsson masih belum puas dengan variasi dalam keluarga Xperia. Selepas X10 dan Sony Ericsson X10 minibergulir, sang vendor menggertak lewat Xperia X8. Dalam beberapa hal, seri baru berbasis Android 1.6 ini seolah memiliki posisi di antara X10 dan X10 Mini.

Disain dan Display
Tampilan Sony Ericsson Xperia X8 dengan nomor model E15i ini masih berbau 'Xperia'. Mengedepankan bentuk candybar, X8 memiliki potongan tubuh tak jauh berbeda dengan X10 Mini. Hanya saja ponsel ini memiliki dimensi lebih besar namun tak melebihi dimensi Xperia X10 yang tergolong bongsor.

Dalam genggaman, ponsel ini terasa sedikit tebal meski bobotnya terkesan ringan. Ini lantaran material casingnya yang terbuat dari bahan plastik. Bodi depan memiliki tekstur keras dan solid. Sayang, komponen casing belakang terbuat dari plastik yang terkesan murahan. Lepas dari itu, tampilan X8 cukup elegan.

Seperti umumnya ponsel layar sentuh, tampilan bodi depan minimalis. Hanya ada layar lebar dengan tiga buah tombol fisik khas Xperia dengan pola menonjol di bagian bawah X8. Yakni tombol menu, home dan back. Tak jauh berbeda dengan produk kompetitor berbasis Android, Sony Ericsson Xperia X8 mengedepankan layar berdiagonal 3 inci dan resolusi 320x480 piksel (HVGA). Piksel ini setidaknya memberikan jaminan gambar yang cukup ideal. Tajam dan jernih. Satu catatan, meski X8 sudah support 16 juta warna, keluarannya terlihat kurang optimal. Berkaca pada kasus LG Optimus beberapa, kemampuan sistem operasi Android 1.6 yang kabarnya hanya mendukung 64 ribu warna patut dituding sebagai biang kerok.

Untuk interaksi, tak perlu lagi memakai stylus karena layar sentuh ponsel ini sudah menawarkan sensor capacitive. Sebuah kelebihan karena beberapa ponsel berbasis Android lain masih tampil dengan sensor resistive. Performa layar sentuh ini cukup baik dan responsif. Eksekusi menu, menggulung layar atau mengetik pesan terasa mantap. Meski nyaris tanpa lag namun transisi layar masih kurang halus dan kurang cepat. Untuk pengetikan, X8 menyediakan keypad virtual dalam format qwerty dan numerik.



Sistem Operasi
Xperia X8 dijejali OS Android 1.6 aka Donut. Akselerasinya cepat dan stabil setara LG Optimus yang juga berbasis OS sama. Soal tampilan, Sony Ericsson mengembangkan user interface khas pada X8 demi memberikan pengalaman berbeda dari OS Donut standar. Hampir sama dengan user interface X10 Mini.
Patut dicatat, hanya ada empat buah homescreen dalam X8. Bandingkan dengan LG Optimus yang bisa mencapai tujuh homescreen. Sementara menu utama diperluas menjadi empat halaman yang bisa diakses dengan menggeser layar ke kiri atau kanan. Terkait personalisasi, homescreen pada ponsel ini hanya bisa dibenami satu widget saja. Satu lagi, shortcut praktis yang disediakan di empat sudut layar ponsel ini cukup menarik dan menghemat ruang. Anda bisa menggantinya sesuai selera dengan cara `drag and drop'.

Akselerometer sudah terintegrasi dalam X8. Saat dijajal kemampuan auto rotate ponsel ini tergolong mumpuni dan cepat beradaptasi terhadap perubahan posisi ponsel. Sayang, hanya bisa diterapkan pada sudut tertentu saja dan berlaku pada fitur khusus semisal foto atau perpesanan.
Kecepatan prosesor X8 di kisaran 600 MHz, masih mampu mendukung kemampuan multitasking saat beragam aplikasi dioperasikan. Jika jumlah aplikasi yang dibuka masih dalam taraf wajar, X8 masih bisa 'ngebut' dalam menjalankan program.

Internet
Sony Ericsson sudah mendukung jaringan 3G/HSDPA untuk akses internet. Selain itu, tersedia juga Wifi yang memiliki kemampuan menangkap sinyal dengan baik. Untuk mulai menjelajah internet Anda bisa menjajal browser bawaan X8. Browser internet ini tak dilengkapi pinch-to-zoom atau double-tap zooming. Padahal ponsel sejenis sudah menggunakan solusi seperti double-tap atau one-touch. Untung saja ada opsi sorot yang bisa memperbesar secara otomatis layar saat halaman dalam kondisi full screen.

Untuk bantuan mengakses internet Anda bisa menekan tombol menu yang memunculkan empat opsi. Salah satunya yang cukup penting adalah fitur multi tab yang membantu membuka beberapa halaman website sekaligus. Sisanya adalah fitur untuk menambah bookmark, kolom pengisian halaman website dan opsi tambahan.

Selanjutnya review Kamera, Audio, dan Fitur. Selanjutnya...

LG GT350i Wink Plus review Internet dan Kamera

Ponselnya anak muda. Nampaknya tagline itu cocok mengingat baik desain maupun fitur dan antarmuka LG Wink ini membawa hal-hal yang digemari usia ABG hingga remaja tersebut. Beberapa fitur khas dan aplikasi khusus situs jejaring sosial favorit pun diyakini bisa menjadi nilai jual tersendiri. Serta kehadiran WLAN yang kini juga sedang digandrungi.

Namun tetap saja beberapa kekurangan seperti yang dialami selama masa pengetesan bisa menjadi batu sandungan, apalagi itu terjadi di fitur andalannya. Juga absennya 3G dengan video callnya sedikit disayangkan.

Internet
Mengandalkan koneksi maksimal EDGE ternyata sudah cukup maksimal, walau ini semua tergantung oleh jaringan operator yang anda gunakan. Jika pulsa tidak mencukupi atau mau lebih hemat dalam berselancar di dunia maya, gunakan saja koneksi nirkabel lokal tanpa kabel (WLAN) yang disediakan.
LG si tukang kedip ini pada dasarnya mengandalkan Social Networking Service atau SNS Manager yang memungkinkan anda mengakses status Facebook Et Twitter teman-teman dalam daftar kontak secara langsung. Yah, mirip-mirip Timescape milik Sony Ericsson lah.

Selain itu ada pula aplikasi Facebook & Twitter khusus LG yang tercatat masih memiliki beberapa kelemahan, terutama untuk Facebook. Pertama adalah walaupun kita telah diminta untuk memasukkan password tiap kali akan login kembali, namun halaman yang kita akses seperti profit kita acap kali belum di-update sehingga harus dilakukan secara manual.
Nah, catatan berikutnya terkait dengan refresh ini. Lebih dari tiga kali ponsel yang dites tiba-tiba mati dan restart ketika proses loading masih berjalan. Padahal halaman Facebook yang dibuka tidak mengandung konten terlalu besar.

Kamera
Media pengambil gambar yang dibenamkan pada ponsel ini tergolong standar, melihat dari resolusi yang baru mencapai 2 MP tanpa dilengkapi lampu kilat.

Karena merasa hasil yang didapat di luar ruangan dengan cahaya melimpah sudah dapat ditebak, mencoba mengambil gambar menggunakan modus malam pada obyek luar ruang yang masih mendapatkan sedikit cahaya dari langit pukul 6 sore. Hasilnya adalah obyek terlihat samar dengan sekelilingnya yang gelap seperti siluet.

Mungkin anda justru akan lebih menyukai hasil kamera indoornya. Baik dengan modus malam maupun tidak, warna dari obyek terlihat natural serta hasilnya cukup tajam. Noise memang ada namun tidak sampai taraf mengganggu. Sementara videonya menghasilkan ukuran maksimal QVGA 12 fps dengan format 3gp yang jadul. Hasilnya bisa ditebak, gambar bergerak baik ketika proses perekaman berlangsung maupun saat playback nampak `lompat-lompat', apalagi jika direkam dengan gerakan cukup tinggi.

Review sebelumnya: LG GT350i Wink Plus review Disain, Display dan Fitur
Selanjutnya...

LG GT350i Wink Plus review Disain, Display dan Fitur

Di negara lain, LG mengeluarkan tipe ini tanpa WLAN dan bernama LG Town atau LG Etna Plus. Mungkin pihak pabrikan asal Korea Selatan ini sadar bahwa fasilitas wireless networking tersebut bisa mendongkrak penjualan, maka LG GT350 yang diluncurkan di Indonesia ditambah embel-embel `i' dengan disuntikkan kemampuan tersebut.

Disain
Secara keseluruhan, desain LG GT350i yang di Indonesia diluncurkan dengan nama `Wink Plus' ini dapat dikatakan cukup manis. Hanya tampak tiga tombol di bawah layar sehingga menciptakan kesan minimalis. Pilihan warna-warna ceria seakan menegaskan pasar yang dituju: anak muda.
Penempatan jack 3.5 mm di atas bodi membuatnya mudah diakses saat ponsel dimasukkan ke dalam saku celana sambil mendengarkan musik metatui headset. Demikian juga slot microSD yang berada sebaris dengan tombol pengatur suara, memudahkan anda dalam menggonta-ganti kartu memori tambahan berukuran sangat kecil tersebut.

Geser penampang ke samping, maka akan anda temukan papan tombol qwerty 4 baris yang mengikuti kontur keyboard komputer. Sayangnya, tombol-tombol berbentuk bulat itu kurang nyaman ketika diakses. Penggunaan dalam jangka waktu lama dan sering akan membuat ujung jari terasa sedikit nyeri.

Anda bisa saja sesekali salah menekan antara spasi dan tombol IM. Hal ini terjadi terutama saat mengetik cepat. Padahal khusus tombol spasi dan enter sudah merupakan gabungan dua tombol sekaligus. Satu lagi nilai plus adalah tersedianya tombol kamera yang bisa sangat membantu dalam mengambil gambar agar ponsel tidak goyang, seperti halnya ketika menyentuh ikon di layar yang acap kali justru membuat tangan menjadi tidak stabil.

Display
Walau kedalamannya belum mencapai jutaan, warna-warna yang terpancar justru mampu tampil alami termasuk dalam menampilkan hasil jepretan kameranya.
Yang menarik tentu saja ada pada antarmuka. Sangat kental nuansa anak mudanya. Lihat saja tampilan bingkai yang bisa dipilih. Selain gambar-gambar pemandangan dan interior rumah, anda juga dapat menemukan sket-sket kartun yang menarik serta colourful. Sangat pas untuk pengguna usia sekolah menengah hingga mahasiswa sekalipun.Sekedar catatan, orientasi layar baru akan otomatis berubah jika anda membuka slide papan qwerty.

Fitur
Beberapa fitur unik bisa ditemukan di ponsel ini. Sebut saja Lilin lunak, merupakan lilin elektronik yang untuk menyalakan dan mematikannya bisa dengan cara sentuhan atau ditiup! Walau butuh tenaga ekstra, namun hal ini cukup menyenangkan, bukan?
Memori internalnya 56 MB tentu tidak akan cukup untuk semua aktivitas anda. Oleh karena itu LG telah menyertakan microSD 2 GB di dalam paket pembelian, dan mampu diekspansi hingga 8 GB.

Review selanjutnya: Internet dan Kamera
Selanjutnya...

BlackBerry Torch 9800, review Internet, Media, Kamera, Baterai dan Memori

BlackBerry Torch 9800 sukses menjadi produk perdana untuk beberapa hal sekaligus, Slider ber interface ganda, dan penggunaan OS6. Lihat review bagian pertama, Desain dan Sistem Operasi. Dari dua hal tersebut, anda akan banyak mendapatkan hal.
Interface ganda akan membuat anda memiliki banyak pilihan ketika bertelepon, sementara OS6 akan membawa anda ke dimensi Blackberry anyar yang lebih cantik di sisi disain dan lebih multimedia di sisi fitur.

Internet
Seperti yang sudah disebutkan di atas, browser termasuk salah satu aplikasi yang dibenahi. Tampilannya tidak lagi sekaku browser yang ada di versi 5. Bahkan dengan layar sentuh kapasitif, maka melakukan browsing bisa lebih nyaman dari biasanya.

Tampilan flash terlihat semakin nge-desktop banget. Tampilan situs web di layar ponsel sudah semakin setara dengan layar komputer desktop. Dengan dukungan fitur multitouch, kita pun bisa browsing dengan lebih baik. Seperti menggunakan browser Safari di iPhone, kita bisa mencubit layar untuk memperbesar tampilan dan sebaliknya. Tanpa harus takut salah pencet lagi.

Sebagai anggota seri 9 teranyar, rupanya Torch juga menyediakan jalur data berkecepatan tinggi. Sudah ada HSDPA dan WiFi n di perangkat ini. Sementara untuk berkirim fife ke sesama perangkat, ada Bluetooth EDR 2.1 +, serta konektor microUSB.

Media
Hadirnya dua interface ini semakin mengokohkan arah perkembangan perangkat BlackBerry. Seperti yang telah kita maklumi, BlackBerry ingin lepas dari bayang-bayang anggapan 'kaku' karena selama ini perangkat tersebut lebih digunakan untuk berbisnis.

Sejak hadirnya keluarga Storm, BlackBery sudah mulai menantang keberadaan ponsel sentuh fenomenal buatan Apple- iPhone. Termasuk dukungan media player yang semakin `eye candy'.

Nah, di Media versi 6 teranyarnya ini, kembali mereka menampilkan yang terbaik. Meski beberapa hanya sebatas tampilan saja. Semisal tampilan ala cover flow iTunes. Dimana kita bisa mengontrol musik-yang dimainkan hanya dengan menggeser album art masing-masing file yang berputar seperti dalam sebuah Jukebox.

Kamera
Fitur kamera juga merupakan satu dari sekian hal yang ditingkatkan. Resolusi maksimal yang bisa ditangkap adalah 5 megapixel. Dengan fitur autofokus dan sejumlah scene yang sudah mengatami peningkatan dibanding kamera terdahulu.

Hasilnya lumayan, meski kadang-kadang untuk pemotretan jarak dekat, lampu kilat bawaan masih terlalu terang sehingga menghasilkan gambar yang tidak maksimat. Sementara untuk outdoor, hasilnya memuaskan. Obyek foto terlihat detil, meski dengan bukaan lebar, artinya obyek yeng terletak di pinggir area foto pun terlihat detil.


Baterai
Torch 9800 membawa baterai Li-ion berkapasitas 1300 mAh. Dengan banyak kemampuan dan integrasi internet yang bertangsung secara kontinyu semestinya besaran baterai segini belum mampu mendukung secara maksimat. Khas BlackBerry!
Tapi dengan OS anyar, rasanya ada sedikit penghematan sehingga anda tidak harus banyak melakukan charging.

Memori
Sayangnya, seperti biasa, BlackBerry hanya menyediakan memori yang terbatas untuk instalasi aplikasi tambahan dan pihak ketiga. Di Torch 9800, memori untuk keperluan itu hanya disediakan 512 MB. Sementara untuk penyimpanan file multimedia, Torch menyediakan memori internal sebesar 4 GB. Ditambah slot MicroSD dengan MicroSD bawaan 4GB dan kapasitas maksimum hingga 32 GB.


Lihat bagian pertama BlackBerry Torch 9800, review Desain dan Sistem Operasi

Selanjutnya...

BlackBerry Torch 9800, review Desain dan Sistem Operasi

Berat nian tanggung jawab yang diberikan kepada Torch 9800. Selain digarap sebagai ponsel Blackberry pertama yang mengusung dua interface, sentuh dan qwerty fisik standar, ia pun dijejali OS anyar yang mungkin butuh penyesuaian penggunanya.
Lalu apakah ini sebuah blunder BlackBerry, karena sejak dulu, kalangan pengguna ponsel sudah terbagi menjadi dua kubu. Pecinta layar sentuh dan pecinta keyboard fisik. Belakangan ini hal tersebut dirasakan juga pada pengguna BlackBerry. Torch bisa digadang mampu menyatukan dua fanatik tersebut.
Meski tidak 100% tepat, BlackBerry Torch 9800 bisa disebut perpaduan antara keluarga Storm dan keluarga Bold. Pasalnya ponsel berdisain slider ini menyajikan dua interface berbeda, layar sentuh dan keyboard qwerty.

Disain
Saat slider tertutup, ponsel ini sangat mirip dengan keluarga Storm. Dimana layar akan berubah posisi mengunakan akselerometer. Pembedanya hanya terletak pada jenis layar yang tidak lagi menggunakan teknologi Surepress. Ada positif dan negatifnya nih. Positifnya, ketika kita menggunakan layar sentuh thok, maka layar tidak lagi bergoyang-goyang seperti Surepress. Negatifnya, tingkat akurasi layar sentuh jadi tidak se-presisi Surepress.


Beruntung Torch 9800 juga membawa keyboard qwerty yang disembunyikan di bagian 'laci' slidernya. Untuk penggunaan yang membutuhkan akurasi tingkat tinggi, semisal mengetik sms dan email, maka gunakan keyboard ini.

Letak keyboard qwerty rasanya memang agak terlalu menjorok ke dalam. Masuk akal sih, dengan bobot yang cukup berat, posisi keyboard yang terlalu dalam akan memperkokoh pegangan saat kita mengetik dengan dua ibu jari. Satu hingga sepuluh menit mencoba, maka anda akan terbiasa.

Di bawah layar sentuh, kita bisa menemukan sejumlah tombol standar BlackBerry. Tombol call, tombol BlackBerry, Trackpad, tombol Back dan End. Menariknya, sudah tidak ada tombol convenience left yang biasanya digunakan sebagai shortcut untuk voice recognition. Kini tinggal tombol convenience kanan yang secara default masih diberikan tanggung jawab sebagai shortcut kamera.

Sistem Operasi
Banyak perubahan yang dapat dirasakan di OS teranyar BlackBerry ini. Sebagian besar memang terletak pada tampilan. Sebagian yang lain pada susunan menu dan settingan yang mungkin akan membingungkan pengguna lawas.

Hal pertama yang bisa dirasakan adalah bahwasannya kita tidak lagi bisa membuka menu utama hanya dengan menekan tombol BlackBerry. Deret menu akan tersimpan pada area drop down (atau pop up?) layaknya menu pada Android. Jadi, yang ada hanyalah pilihan "open tray" atau menggeser tanda panah di bagian dasar home screen ke atas.

Interface Menu Utama pun terpisah sesuai dengan kategorinya. Terlihat seperti halaman-halaman widget Android yang bisa digeser ke kanan dan ke kiri. Pengelompokan secara default adai multimedia, Downloads, dan favorite, tempat dimana kita bisa meletakkan menu-menu penting yang sering diakses.

Hampir semua aplikasi bawaan BlackBerry, yang termasuk Core maupun Add-on sudah menggunakan versi anyar. Semuanya sudah menggunakan embel-embel v6.0 sekian, kecuali BlackBerry Messenger. Namun yang disebut terakhir ini tetap dengan tampilan yang segar loh.

Menariknya, Sistem operasi anyar ini memungkinkan kita me-review jumlah memori yang digunakan, proses apa saja yang sedang berjalan dan sebagainya lewat satu fitur bawaan. Tanpa menggunakan trigger (kombinasi keyboard) untuk memunculkannya. Dengan demikian anda bisa berhitung, aplikasi apa saja yang perlu diinstal dan aplikasi mana yang rasanya sudah harus dihapus dari ponsel.

Selanjutnya BlackBerry Torch 9800, review Internet, Media, Kamera, Baterai dan Memori

Selanjutnya...

Langganan Artikel GRATIS

Tulis alamat email di kotak, lalu tekan Subscribe, ikuti petunjuk selanjutnya:

Delivered by FeedBurner

Followers

Blog Direktori

Mobile Phone Blogs - BlogCatalog Blog Directory Directory of Gadgets Blogs Add to Technorati Favorites blog-indonesia.com

Kategori

·         Advertorial

·         Android

·         Android GingerBread

·         Aplikasi Ponsel

·         Apple

·         Audio Video MP3

·         Berita

·         Beyond

·         Blackberry

·         Blackberry Playbook

·         CDMA

·         Compare

·         Download

·         e-Mail

·         Gadget

·         Games Java

·         Games Symbian

·         HTC

·         Huawei

·         IMO

·         Install _ Un-install

·         Internet GPRS

·         iPad 2

·         iPhone

·         Kamera_Video

·         Layar Sentuh

·         LG

·         Motorola

·         Nokia

·         PC Tablet

·         PC_Software

·         PDA/PPC/O2

·         Ponsel Java

·         Proteksi Security

·         Pustaka

·         Qwerty

·         Review

·         S60v5

·         Samsung

·         Service Ponsel

·         Slide Geser

·         Sony Ericsson

·         Symbian Anna

·         Symbian Belle

·         Symbian S60 v3

·         Symbian S60 v5

·         Symbian S60v2

·         Symbian^3

·         Symbian_s60v3

·         Symbian_SE_UIQ2

·         Symbian_SE_UIQ3

·         Tips Tricks

·         Tutorial

·         Virus Symbian

·         ZTE

Arsip Artikel

 
Please Enable JavaScript!
Mohon Aktifkan Javascript![ Enable JavaScript ]