Showing posts with label Compare. Show all posts
Showing posts with label Compare. Show all posts

Compare: Huawei U8300 vs Motorola Charm

Kini ponsel dengan kemampuan input ganda yakni qwerty + touchscreen makin diminati oleh pasar. Kecenderungan pasar tersebut direspon baik dengan beberapa vendor branded yang menggelontorkan jawara mereka dengan moda tersebut. Selain unggul di sektor keleluasaan penggunaan terutama untuk messaging, disain yang unik, antarmuka ponsel yang Iebih interaktif, adalah beberapa kelebihan dari ponsel TouchType. Kali ini kami akan mengkomparasi Motorola Charm dan Huawei U8300. Sama-sama bekerja dengan OS Android Eclair dan TouchType. Who' s the winner?

Huawei U8300
Kesan apik dan stylish akan segera tergambar saat Kita menggenggam kedua ponsel ini. Sebagai ponsel yang menjalankan OS Android, Huawei U8300 dan Motorola Charm, kedua ponsel ini tampil sejatinya smartphone. Tampilan kedua ponsel menyeruak pada kategori smartphone community, hal itu terlihat dari tampilannya yang menunjang full keypad, dengan dimensi layar yang luas.

Kedua ponsel terasa erat dan pas saat masuk telapak tangan Kita, hal itu dikarenakan material casing ponsel yang terbuat dari plastik yang dikombinasikan dengan gestur karet halus pada permukaan casingnya. Hanya bedanya, pada Huawei U8300 pemilihan warna cerah pada casingnya memberika identitas muda pada penggunanya.

Pada bagian depan Motorola Charm, dijejali oleh jajaran keypad QWERTY yang menemani layar anti gores Gorilla Glass miliknya yang cukup lapang. Tertanam 3 ikon sentuh persis di antara layar dan jajaran keypad yang masing-masing dapat mengakses shortcut, menu, dan back. Pada jajaran QWERTY juga terdapat tombol shortcut.
Sedangkan pada Huawei U8300 dengan kodratnya sebagai ponsel TouchType, memiliki konsep yang lebih seimbang antara besaran layar de'ngan keypad.

Motorla Charm yang berjalan pada basis HSDPA 3.6 Mbps dan HSUPA 2 Mbps menjamin kenyamanan saat Kita memasuki dunia maya. Baik menggunakan koneksi jalur operator maupun WiFi, yang di mana pairingnya lancar dan tidak ada kendala. Lain dari itu, sarana Bluetooth dan kabel data bisa menjadi opsi Kita guna tukar file maupun instalasi. Special pada Motorola Charm, terdapat fitur Motorola Phone Portal, yang mengkoneksikan Kita dengan PC maupun dengan konektivitas web.

Sedangkan pada Huawei U8300, Kita dapat membagi sambungan data WiFi dengan Hotspot WiFi Tethering, yang di mana ikonnya sudah disematkan di halaman menu.
Kedua ponsel memiliki aplikasi khas Android, termasuk di dalamnya aplikasi navigasi seperti A-GPS, Place, dan Navigation. Huawei U8300 dan Motorola Charm sama-sama mampu menampilkan full halaman pada browser dengan efek multi-touch dan multi-tab.

Kinerja Charm disokong oleh prosesor TI OMAP3410-600 MHz, sedangkan Huawei U8300 mengandalkan processor Huawei U8300 Board CPU model ARM v6 Processor-600MHz. Kedua ponsel tak tertutup kemungkinan mampu mendukung formasi upgrade android ke versi Froyo (v2.2). Perihal frequency processor, kedua ponsel sama-sama di kisaran 600MHz.

Seperti smartphone pada umumnya, Motorola Charm juga melengkapi dirinya dengan Accelerometer sensor for UI auto-rotate dan MOTOBLUR UI v1.5 with Live Widgets sebagai interface khas ala Motorola ponsel ini pun menyediakan shortcut jajaran aplikasi maupun koneksi, serta multitouch (aksi zooming dengan mencubit layar). Sedangkan tampilan pada Huawei U8300 homescreen layaknya UI smartphone. Terdapat 8 halaman homescreen yang dapat disematkan berbagai aplikasi yang Kita sukai, sebagai shortcut yang memudahkan.

Bicara soal system operasi, Motorola Charm dan Huawei U8300 sama-sama mengandalkan OS Android versi Eclair (v2,1). Kedua ponsel ini relatif lancar dalam menjalankan kinerjanya, begitupun saat membuka beragam aplikasi yang tersaji pada jajaran menu. Terutama saat Kita mendownload aplikasi dan situs yang bermuatan video seperti YouTube, efek jeda dan buffering dapat diminimalisir. Dengan hadirnya OS Android Eclair di kedua ponsel ini, memungkinkan Kita untuk mendownload beragam aplikasi gratisan dari Android Market.

lni dia yang menjadi salah satu karakteristik dari kedua ponsel, karena Kita diberikan keleluasaan melakukan pengetikan melalui kypad QWERTY dan tapping touchscreen. Kedua ponsel sama sama memiliki layar yang responsif dalam menerima sentuhan dan ketukan jari. Kontur keypad QWERTY Motorola Charm dan Huawei U8300 sama-sama nyaman digunakan dan empuk di permukaan jari.

Huawei U8300 dan Motorola Charm sama-sama memiliki fasilitas audio player yang mampu memutar data berformat MP3/eAAC + /WAV/WMA player. Motorola Charm dibekali dengan speaker stereo, sehingga kualias suara yang dihasilkan melalui speaker eksternal, maupun headphone dengan sematan audio universal 3,5 mm sangat kuat dan suaranya tidak pecah (sember).

Sedangkan pada Huawei U8300 audio playernya memiliki kemampuan daya sembur yang nyaring baik dari speaker maupun headphone-nya. Tampilan skinnya tidak se-atraktif Motorola Charm, yang dimana pada Huawei U8300 skinnya menampilkan standar audio player biasa, dengan panel audio, judul lagu, nama artis, durasi dan jika albumnya tidak dikenali, maka cover album yang tertampil hanya animasi cakram biasa berwarna perak.

Meski sama-sama tidak memiliki kamera sekunder, dengan beragam settingan seperti color effect, picture quality, white balance dan color effect menjadikan hasil kamera di kedua ponsel ini tetap tajam dan tidak berkabut.

Salah satu kesamaan Huawei U8300 dan Motorola Charm yakni sama-sama membenamkan kamera berkekuatan 3.15 megapiksel (2048 x 1536 pixels) sebagai sarana rekam. Bedanya adalah Huawei U8300 dilengkapi dengan LED Flah, sedangkan Motorola Charm tidak.

Pada video player, Motorola Charm dan Huawei U8300 support pada beragam format putaran, diantaranya MP4/ WMV/H.264/H.263 player. Berjalan pada video berotasi putar 24fps, Kita bisa menikmati beragam video dengan kualitas apik dan tidak lag.
Pada Motorola Charm dan Huawei U8300, sama-sama memiliki beberapa fitur aplikasi kantoran. Semisal Quick Office, Email, Push Mail, Schedule, Calendar, Digital Compass atau Adobe Reader. Pada Huawei U8300, terdapat aplikasi Document To Go yang mampu membaca beragam data berformat Excell, PDF, Word dan slideshow.

Berdasarkan pengukuran kinerja CPU pada Motorola Charm yang dicoba via Aurora SoftworkQuadran Standard, mencapai poin 3053, melampaui Nexus One dan HTC Evo. Sedangkan pada Huawei U8300 yang diuji via Antutu Benchmark, Huawei U8300 mencapai 863 poin dan kemampuan membaca SD card 1 3.4MB/s = 134.

Kesimpulan
Meski menjagokan kemampuan dual input dan OS Android Eclair, kedua ponsel yang Kami adu kali ini cukup memenuhi segala aspek untuk menyandang gelar smartphone.
Masing masing punya keunggulan tersendiri, sesuai dengan karakteristik ponsel. Motorola Charm memiliki Motoblur UI v1.5 with Live Widgets. Sedangkan Huawei ue300 memiliki disain yang muda serta fasilitas Hotspot WiFi Tethering yang "menyulap" dirinya menjadi titik hotspot untuk WiFi dan dapat berbagi koneksi ke beberapa perangkat.
Bicara kisaran harga, Motorola Charm ditebus dengan harga Rp.1,5jutaan, sedangkan Huawei U8300 hanya dibanderol Rp.1jutaan, baca review lengkapnya di sini. Kini pilihan ada di tangan Kita, ponsel dual input apa yang cocok dengan selera dan kebutuhan Kita.
Selanjutnya...

Adu gengsi si roti jahe, Sony Ericsson Xperia Arc v.s. Google Samsung Nexus S

Kehadiran smartphone ber-platform Android Gingerbread cukup ditunggu dan menjadi euphoria di market dunia. Sony Ericsson hadir lebih dulu dengan mengedepankan prestise dan inovasi. Sedangkan Google phone kembali melakukan penetrasi dengan mempercayakan balutan fisiknya pada pabrikan raksasa Korea, Samsung.

Keluarga baru Sony Ericsson itu berjuluk 'Xperia Arc', sedangkan kolaborasi Samsung-Google satu kemasan dalam 'Samsung Google Nexus S'. Lantas sejauh apa Google phone menandingi pabrikan sekelas Sony Ericsson yang telah lama malang melintang di perangkat komunikasi tersebut?

Desain



Keduanya memang menyasar pada pengguna kelas premium, namun dari sisi tampilan fisik cukup jauh berbeda. Saat menggenggam Arc, anda akan merasa bak menggenggam keramik berukuran kecil namun ringan. Hal itu dipertegas dengan bentukan Arc yang kotak simetris dan slim. Berbeda kala anda menggenggam Nexus S, selain lebih berat 12 gram, ponsel ini tak menyematkan sudut pada desainnya. anda juga menemukan perbedaan lain ketika menyentuh permukaan keduanya. Arc tampil dengan permukaan yang lapang dan rata, berbanding terbalik dengan Nexus S yang hadir dengan permukaan cekung. Karakter disain yang diusung keduanya pun boleh mendapatkan jempol.

Layar



Anda akan merasakan sensasi baru ketika menyentuh permukaan Arc. Layar LED seluas 4,2 inci itu oleh pihak Sony Ericsson telah ditanamkan teknologi yang mereka sebut 'Mobile-Bravia Engine'. Tampil dengan ketajaman yang fantastis bak TV layar datar hingga mampu memanjakan mata anda. Sedangkan Samsung membekali layar Super AMOLED 4 inci dengan karakter 'Curved Glass Screen', yang berarti teknologi layar berkontur melengkung. Keduanya bersamaan menyemat karakter display khas pabrikan, sehingga selera anda yang akan menentukan cocok tidaknya pada karakter keduanya.

OS dan Menu



Berjalan pada platform serupa keduanya sama tangguh dalam hal kinerja. Namun ketika anda melakukan booting secara bersamaan maka anda akan jenuh menunggu Arc, pasalnya butuh waktu 160 detik hingga mencapai tampilan homescreen. Berbanding terbalik dengan Nexus S yang hanya membutuhkan waktu 23 detik saja. Namun kekayaan tampilan nampaknya masih menjadi milik Arc, di jajaran homescreennya hadir beragam widget bawaan semisal Timescape dan Mediascape. Masuk ke ranah menu anda pun akan mendapatkan hal yang sama, Arc lebih kaya dengan konsistensi fitur khas serta beberapa jajaran aplikasi tambahan. Pada Nexus S, Samsung memangkas fitur SNS dan Samsung Apps yang belakangan menjadi ciri khas smartphone Samsung.

Kamera Foto

Sejak jaman 'baheula , Sony Ericsson dikenal dengan ketangguhannya mengemas kamera dalam ponsel. Tak heran rasanya kalau Arc pun disuntikkan kamera super canggih yang dilengkapi CMOS sensor Exmor'R. Selain mahir dalam mengemas objek, kamera 8 megapiksel tersebut mampu melakukan filterisasi cahaya, hingga dapat menampilkan hasil yang natural dan jernih, walau di tempat minim cahaya sekalipun. Sedangkan Nexus S tampil apa adanya dengan kamera 5 megapikselnya. Dilengkapi LED flash dan fitur pendukung, hasilnya pun tak tampak terlalu mengecewakan.

Video Recording & Player


Disektor rekam, Arc dibekali karakter high definition dan kontinyu autofocus serta video light. Cukup apik dalam mengemas hasil rekam yang terangkum dalam format MP4. Sedangkan Nexus S hanya mampu menghasilkan format 3GP, cukup sayang dengan kelas premium yang di usungnya. Dan keduanya cukup mahir dalam memutar format video. Arc menyediakan sarana ini pada homescreen yang terintegrasi pada Mediascape, maupun galeri video.
Sedangkan guna memutar video pada Nexus S, anda harus mengakses galeri lalu kemudian memilih koleksi video anda yang tertampil bersama foto dan gambar yang tersimpan dalam memori ponsel. Nexus S tidak menyediakan ikon khusus untuk aplikasi video player pada menu utama, namun anda dapat mendownloadnya via Market.

Koneksi

Disisi konektifitas keduanya menawarkan banyak opsi guna terhubung dengan internet dan perangkat lain. Selain itu keasyikan lebih berupa fitur mobile hotspot yang dibenamkan keduanya. Namun Arc lebih selangkah di depan Nexus S dengan bekal HDMI yang mengkoneksikan layar Bravianya dengan TV, dengan ini anda dapat melakukan presentasi dengan hanya menggenggam ponsel.

Kesimpulan

Walau keduanya bermain di kelas premium, Arc lebih banyak memberikan tawaran, terutama dari segi fitur dan konektivitas. Meski menjadi generasi penerus tahta Google phone, Nexus S nampaknya tak berbuat banyak dari sisi inovasi dan fitur. Tandemnya dengan Samsung pun terlihat tak banyak memberi perubahan berarti selain dari sisi performa kinerja dan sedikit inovasi desain. Selanjutnya...

Adu ponsel kelas menengah, Wave 533 melawan Nokia X5

Nokia sudah terkenal dengan kualitas perangkat kerasnya sementara untuk urusan sistem operasi tampak Symbian sudah masuk ke dalam taraf membosankan. Sedang Wave 533 yang dibekali dengan sistem operasi anyar Samsung Bada menawarkan pengalaman baru berponsel walaupun pada beberapa sisi masih terasa mirip Android.

Internet Fitur Internet pada kedua ponsel memiliki kelebihannya masing-masing. Berselancar di dunia maya menggunakan browser X5 cukup memuaskan berkat kecepatan akses data HSDPA yang sudah didukung oleh ponsel ini. Selebihnya, tak ada yang istimewa dari browser bawaan Nokia X5 ini.

Beralih ke Wave 533, pengalaman ber-internet menggunakan browser Samsung Dolphin 2.0 pada ponsel ini lebih atraktif. Browser Wave 533 mendukung lebih banyak fitur ketimbang lawannya, sebut saja multi windows browsing dan multi touch zooming yang membuat kegiatan browsing lebih mengasyikkan.

Soal jaringan yang sebatas mampu berjalan pada jaringan GPRS EDGE, bisa terbantukan dengan fitur wi-fi jika Anda berada pada area hotspot. Fitur wifi juga tersedia pada Nokia X5.
Selain browser, kedua ponsel menyediakan berbagai aplikasi berbasis Internet seperti Facebook, Twitter dan Youtube.

Kamera
Seperti yang pernah disampaikan CEO Apple Inc., Steve Jobs, pada event tahunan Apple Worldwide Developers Conference (WWDC) 2010 yang lalu, bahwa ketika berbicara tentang fotografi, besaran megapixel bukanlah segalanya, masih banyak faktor lain yang menentukan kualitas hasil foto, diantaranya kualitas sensor dan software yang berjalan.

Berangkat dari hal tersebut, rasanya tidak ada salahnya untuk membandingkan fitur kamera kedua ponsel. X5 dipersenjatai kamera 5 megapixel yang dilengkapi dengan LED flash. Tersedia 7 pilihan scene mode yang bisa disesuaikan dengan keadaan sekitar objek foto. Di samping itu tersedia fitur self timer dan sequence mode dimana pengguna bisa melakukan pengaturan agar kamera menangkap serangkaian gambar secara berurutan.

Sedikit di bawah X5, Wave 533 hanya dibekali kamera 3.2 megapixel tanpa lampu flash. Wave 533 juga menyediakan pilihan scene mode yang jumlahnya sedikit lebih banyak yaitu 12 buah. Selain scene mode, Wave 533 juga memberikan 6 pilihan shooting mode, diantaranya single, smile shot, continuous, panorama, mosaic.dan frame. Keberadaan tombol fisik shutter kamera juga menjadi poin tersendiri bagi kamera Wave 533.

Fitur Lain
Selain fitur berbasis internet yang sudah disebutkan sebelumnya, kedua ponsel juga diperkaya berbagai fitur yang terbilang tidak biasa.
Pada Samsung Wave 533 misalnya, tersedia fitur Social Hub yang mengintegrasikan email dan fitur jejaring sosial secara terpadu. Untuk menambah atau mengubah informasi akun yang terhubung dengan Social Hub, pengguna dapat mengakses aplikasi My Accounts.

Untuk menambahkan berbagai aplikasi ke dalam Wave 533, Samsung juga menyediakan Samsung Apps yang fungsinya berbeda dengan milik ponsel Android ketuaran Samsung. Pada pasar aplikasi ini tersedia berbagai pitihan aplikasi untuk sistem operasi Bada yang digunakan Wave 533.
Sedang X5 menyediakan aplikasi Quick Office yang berperan sebagai pengganti software Microsoft Office yang biasanya berjalan pada PC. Disamping itu X5 juga memberi bonus 4 aplikasi games yang cukup bermanfaat untuk menghabiskan waktu.

Audio Video
Untuk fitur hiburan, kedua ponsel juga ditanamkan pemutar video dan musik. Pemutar video Samsung tersedia secara tersendiri, sementara untuk memutar video pada X5 pengguna dapat memutar melalui gallery.

Selain pemutar musik, pada pilihan menu musik nokia X5 pengguna juga dapat menemukan berbagai fitur yang berhubungan dengan musik, seperti Shazam yang berfungsi untuk mencari tag (informasi judul, penyanyi, album dan lainnya) dari sebuah tagu dan Playlist DJ yang akan memudahkan pengguna untuk membuat playlist secara otomatis mengikuti suasana hati. Selain fitur yang sudah disebutkan tersedia juga pilihan internet radio, podcast, recorder dan music search.

Pada pemutar musik milik X5, terdapat pilihan pengaturan standar seperti equalizer, shuffle, dan repeat. Sedang interfacenya sama seperti ponsel Symbian kebanyakan yang menampilkan panel kontrol dan detail tagu. Berbeda dengan tampilan pemutar musik X5, milik Samsung Wave 533 sedikit lebih atraktif dengan tampitan equalizer yang menjadi foreground dari album art musik yang sedang diputar. Tersedia pula fitur sejenis Shazam yang terintegrasi dengan pemutar musik. Fitur ini bisa diakses dengan menggeser ke atas atau menyentuh tombol virtual bergambar tiga titik yang terletak di bagian bawah layar, kemudian pitih 'music recognition'.

Selanjutnya...
Selanjutnya...

Compare: Nokia X5 dan Samsung Wave 533

Ponsel kelas menengah atau mid-end, masih menjadi pilihan bijak buat Anda yang ingin menikmati ponsel berkemampuan `tidak biasa' namun dengan harga yang lebih terjangkau. Tersedia banyak pilihan di pasaran, namun kami menyajikan dua pilihan ponsel berharga di bawah dua juta yang layak dipertimbangkan, Nokia X5 dan Wave 533. Meski sudah tidak baru lagi, kedua ponsel ini masih cukup laris di pasaran. Bagaimana performa keduanya ketika dibandingkan head-to-head? Berikut laporannya.

Desain
Meski secara bentukan keduanya terlihat agak jauh berbeda, nyatanya kedua ponsel menganut konsep dasar disain yang sama, QWERTY slider. Bedanya untuk mengakses papan keyboard, bagian depan Nokia X5 perlu digeser ke arah atas sedang Samsung Wave 533 ke samping kanan.

Perbedaan dimensi kedua ponsel pun cukup signifikan. Dalam keadaan slide tertutup X5 tampak lebih lebar sedang Wave 533 lebih panjang dari lawannya. Dengan wujudnya yang berbentuk kotak, tak salah jika Anda menyebut X5 `mirip kotak bedak', layaknya Nexian She. Sementara Wave 533 terlihat lebih 'normal' dan mirip saudaranya Wave 525 dan Wave 575.

Nokia X5 menempatkan gerbang microUSB dan audio 3.5mm pada sisi atas dan tombol pengatur volume di sebelah kanan ponsel. Bersama layar, diletakan tombol navigasi 5 arah, 2 softkey, call, end, home dan pemutar musik pada bagian muka. Dan tentunya full QWERTY keyboard ketika slider terbuka. Seperti X5, Wave 533 juga menempatkan

Gerbang micro USB dan audio 3.5mm di bagian atas. Yang berbeda yaitu tombol pengatur volume yang berada di sisi kiri sedang bagian kanan ditempati tombol power dan shutter kamera. Bagian depan diletakkan layar bersama tombol call, menu dan end. Tak berbeda dengan X5, full QWERTY keyboard milik Wave 533 juga bisa diakses setelah slide dalam keadaan terbuka.


Perbedaan pada papan ketik kedua ponsel juga tampak pada disainnya. Milik X5 lebih rapat dengan bentuk menonjol, sedang milik Wave 533 didesain rata dan lebih luas berkat sedikit area pemisah antar tombol. Jika ukuran tombol pada masing-masing keyboard dibandingkan milik Wave 533 lebih besar. Sedang soal kenyamanan, menurut Kami desain tombol X5 relatif lebih unggul karena bentuknya yang membuat pengetikan lebih "terasa". Material Nokia X5 terdiri dari kolaborasi antara metal dan plastik berkualitas sedang Wave 533 di dominasi bahan plastik yang terasa lebih `ringkih'.

Layar & Menu
Baik X5 maupun Wave 533 sama-sama menggunakan layar TFT LCD berkedalaman 256 ribu warna. Namun ketika berbicara soat ukuran jetas jauh berbeda, layar Samsung Wave 533 lebih luas terpaut nyaris 1 inchi dengan milik Nokia X5. Selain itu layar Wave 533 juga berfungsi sebagai panel input sentuh, sedang milik X5 berperan sebatas sebagai layar biasa saja.

Orientasi layar X5 adalah landscape, sementara Wave 533 lebih dinamis. Ketika slide dalam keadaan tertutup, layar Wave 533 berada dalam orientasi portrait dan bisa berubah ke posisi landscape dengan memutar ponsel ke kanan atau kiri berkat sensor accelerometer yang tertanam. Dan saat menggunakan keyboard, orientasi layar Wave 533 terkunci pada posisi landscape.

Memasuki area homescreen, secara default X5 menggunakan user interface yang disebut Active Standby Homescreen. Tersedia shortcut kontak, email, WLAN dan sebuah panel yang berisi enam buah shortcut aplikasi yang bisa Anda personalisasi sesuai kebutuhan. Jika tidak diubah pengaturannya, softkey kiri didedikasikan untuk menuju daftar kontak dan softkey kanan untuk mengakses kamera. Para pengguna setia ponsel Nokia pasti sudah sangat familiar dengan tampilan ini.

Sementara Samsung mengaplikasikan TouchWiz UI 3.0 pada Wave 533 sehingga tampilan homescreennya mirip dengan ponsel Android Samsung yang juga menggunakan user interface yang sama. Pada homescreen Wave 533 terdapat multi- desktop yang bisa dijejali berbagai widget sesuai keinginan. Desktop ini bisa ditambah jumlahnya sampai dengan 10 buah. Cukup usap layar ke kin atau ke kanan untuk berpindah dari satu desktop ke lainnya. Selain itu tersedia tiga buah ikon shortcut di bagian bawah layar, masing-masing menuju keypad, kontak dan pesan.

Beralih ke menu utama. X5 menampilkan berbagai ikon menu dalam susunan petak (grid) 4X6, sesuai tampilan standar ponsel Nokia pada umumnya. Sedang pada Samsung, tampilan menu utama juga mirip ponsel Android ketuaran Samsung. Meski tersaji dalam susunan grid, menu utama Wave 533 berbentuk multi panel seperti halnya pada desktop. Dan tidak berbeda dengan desktop, jumlah panel pada menu utama bisa ditambah hingga 10 buah.

Wave 533 juga dilengkapi tray notifikasi, mirip yang dipunyai sistem operasi Android. Cara untuk mengakses tray ini pun tidak berbeda dengan Android, cukup usapkan jari dari bagian atas layar ke arah bawah. Pada tray ini tersedia fasilitas yang memudahkan pengguna mematikan/ menghidupkan fitur wifi, Bluetooth dan profil silent.

Kedua ponsel juga sudah mampu melakukan multi tasking, dan untuk memudahkan perpindahan antar aplikasi yang berjalan, keduanya juga sudah dibekali dengan semacam fitur task manager. Untuk mengakses fitur ini pada X5 cukup tekan tombol home beberapa saat. Sedang pada Wave 533 fitur ini bisa diakses dengan menekan tombol menu beberapa saat. Fitur task manager pada Wave 533 juga bisa digunakan untuk menutup aplikasi yang berjalan, tidak demikian pada X5.

Selanjutnya ...
Selanjutnya...

Adu kamera 12 MP pada SE Satio (U1i) dan Nokia N8

Kebutuhan untuk mengabadikan momen pribadi dalam sebuah foto atau video kian meningkat. Keperluannya pun beragam, sebagian orang memotret gambar atau merekam video untuk dokumentasi pribadi, sebagian lainnya untuk diperlihatkan ke orang lain, melalui situs jejaring sosial, misalnya seperti Facebook.

Bagi beberapa orang kemampuan kamera pada ponsel belum memenuhi kebutuhannya akan sebuah kamera, sehingga memilih membawa kamera saku kemanapun mereka pergi. Namun kini beberapa vendor ponsel mulai menyertakan kamera hingga 12 megapiksel dengan harapan bisa memenuhi kebutuhan tersebut.

Di artikel ini saya mencoba membandingkan kemampuan kamera Nokia N8 melawan Sony Ericsson Satio. Keduanya bisa dibilang superior jika berbicara soal kamera, karena sama-sama berkekuatan 12 Megapixel.

Pengoperasian
Keberadaan tombol khusus shutter pada kedua ponsel adalah hal yang sudah selayaknya dimiliki, mengingat kekuatan fitur kamera yang sangat 'menonjol'. Selain untuk mengambil gambar, tombol shutter pada kedua ponsel juga berfungsi sebagai auto fokus layaknya pada kamera digital. Untuk pengaturan zoom, Satio dilengkapi dengan tombol fisik zoom in dan zoom out sehingga proses zooming lebih intuitif. Berbeda dengan N8 yang proses zoomingnya dilakukan pada panel virtual.


Interface pada fitur kamera keduanya bisa dikatakan cukup mudah dimengerti. Pada tampilan fitur kamera Satio, di bagian kiri layar kita akan menemukan 5 macam ikon yang masing-masing mewakili pengaturan, antara lain pilihan scenes/presets, mode pengambilan gambar, flash, ekposur, dan auto. Di kanan kita akan menemukan ikon untuk keluar dari fitur kamera dan ikon untuk masuk ke dalam pilihan setting (pengaturan).

Sedang interface N8 tampil lebih minimalis dengan hanya 3 buah ikon di samping kanan, masing-masing untuk berpindah ke mode video, flash, dan menu pengaturan. Disematkan pula panel zoom di sebelah kiri.


Untuk berpindah ke mode perekam video pun tidak sulit, karena keberadaan tombol fisik pada Satio untuk perpindah dari mode kamera foto ke video sangat membantu. Sementara pada N8, seperti halnya zoom, untuk berpindah ke mode perekam video dilakukan pada panel virtual.

Indoor objek
Kemampuan kedua kamera dalam ruangan bisa dibilang sangat memadai. Saat dicoba, kamera keduanya menangkap ketajaman yang jauh di atas rata-rata kamera ponsel kebanyakan. Hanya saja saat memotret dengan bantuan flash dalam keadaan ruangan dengan pencahayaan minim, kedua ponsel menangkap warna yang sedikit berbeda dengan warna asli objek. Jika N8 menampilkan warna yang sedikit lebih pucat dari warna asli, sementara Satio menghasilkan warna yang lebih gelap dari warna asli. Tetapi yang paling menjadi catatan adalah kemampuan N8 meminimalisir noise, yang tidak dimiliki Satio.

Outdoor objek
Seperti halnya saat di dalam ruangan, kedua kamera tampil prima di luar ruangan. Kedua kamera menghasilkan gambar yang relatif seimbang dari segi kualitas. Baik ketajaman maupun warna yang dihasilkan sesuai dengan keadaan objek sebenarnya.

Modus Makro
Makro adalah fitur yang umum pada kamera digital kelas high level, tapi tidak pada ponsel. Namun kedua ponsel yang kita bandingkan sama-sama dipersenjatai dengan fitur ini. Dengan mengaktifkan fitur makro, sebuah kamera dapat menangkap objek dengan ketajaman sangat baik meskipun dalam jarak yang sangat dekat.
Ketika kedua kamera dicoba dengan mengaktifkan fitur ini, N8 menghasilkan ketajaman yang relatif lebih baik dibanding Satio. Disamping warna yang lebih natural.

Merekam Video
Saat berbicara soal kemampuan merekam video, N8 berada di atas angin. Kemampuannya untuk merekam video dengan kualitas HD 720p jelas tidak sebanding dengan video yang dibuat Satio yang hanya dalam kualitas WVGA saja.
Ketika merekam video, sangat terasa bahwa sensor Satio bekerja lambat sehingga saat video direkam dan diputar kembali tampak pergerakan objek seperti terbata-bata. Keadaannya sangat berbeda dengan video hasil dari N8, yang mampu menghasilkan video dengan kualitas sekelas HD Camcoder.

Kesimpulan
Kedua ponsel jelas mampu menunjukan kualitasnya sebagai ponsel kamera superior, hanya saja kemampuan N8 mereduksi noise saat dioperasikan dalam keadaan pencahayaan minim, bisa dibilang luar biasa dan cukup membuat Satio kewalahan. Meski begitu performa keduanya saat pencahayaannya baik relatif seimbang. Di sisi video, Satio jelas tidak bermain dalam liga yang sama dengan N8. Dari segi kualitas, N8 jauh meninggalkan Satio.
Selanjutnya...

IMO W8000 vs Nexian NX-W701 (bagian 1)

IMO dan Nexian akhirnya mendobrak celah pasar baru industri telekomunikasi tanah air, khususnya sebagai penyedia handset lokal dengan menghadirkan teknologi generasi ketiga (3G) digarapan paling gres mereka, yakni IMO W8000 dan Nexian NX-W701.

Kedua ponsel ini bisa dibilang sebagai ikon baru, setelah sebelumnya pasar dibombardir dengan produk dual on 'itu-itu saja'. Sebagai pendatang baru yang menyandang predikat 'pelopor', tentunya perlu melalui uji pasar. Kira-kira, seberapa tangguh teknologi keduanya?

Display
Tampilan fisik keduanya tetap menyuguhkan karakteristik ponsel merek lokal. Yakni, ala smartphone branded yang tentunya tengah ngetrend di pasaran. Nexian NX-W701 misalnya, mengadopsi bentuk Samsung OmniaPRO. Sementara IMO W8000, terlihat mirip Huawei U9130 Compass. Hanya saja, ada beberapa bagian yang agak'dipoles', supaya ada bedanya.

Bodi W8000 sedikit tebih 'tambun' dibanding NX-W701. Hanya saja, lekuk bodi IMO lebih ergonomic dengan efek kaca di sisi depan, sebagai pemanis tampilan. Sedang Nexian, guratan 'kaku'-nya terasa lebih menonjol. Namun, komposisi disain dan dimensi yang pas di NX-W701 justru membuatnya terlihat mewah.
Bodi besar di IMO, ternyata membawa berkah untuk layar. Ya, diagonal LCD W8000 0.4 inci lebih luas dibanding Nexian. Resolusi gambarnya yang 240x320 piksel (QVGA) pun membuat tampilan gambarnya lebih rapat dan enak dipandang.

Soal interface, keduanya tetap menghadirkan antarmuka khas ponsel lokal. Wajar, platform software yang digunakan pun sama. Yakni, MTK6268. Struktur menu diatur dalam model grid, dan dilengkapi ikon standar. Di homescreen, baik IMO maupun Nexian menghadirkan ikon shortcut untuk mengakses menu favorit. Di NX-W701 ada tambahan ikon ala today Nokia, yang bisa menampilkan notifikasi missed call, unread message dan task.

Layanan Online
Inilah inovasi baru yang coba ditawarkan ponsel lokal, untuk mendobrak pasar yang sudah jenuh dengan produk yang 'itu-itu' saja. Ya, keduanya sudah didukung dengan teknologi generasi ketiga (3G). Di atas kertas, speed data yang bisa dipacu oleh network kedua ponsel adalah 3.6 Mbps. Namun, real-nya masih di kisaran 1.8 Mbps (downlink). Untuk uplink-nya mencapai 384 kbps. Jika network ini tidak ter-cover jaringan 3G operator, NX-W701 maupun W8000 tetap menyediakan jalur EDGE atau GPRS class 12.

Sayang, network 3G ini hanya bisa dinikmati melalui slot SIM card utama (SIM 1) yang dalam hal ini dilock oleh operator. IMO W8000 oleh Telkomsel, dan Nexian NX-W701 oleh XL. Kondisi ini tentu saja bakal berpengaruh pada kinerja kemampuan 3G secara keseluruhan.

Saat dicoba untuk membuka halaman situs internet, prosesnya tergolong cepat dan lancar. Sayang, browser yang ditanamkan kedua ponsel masih sekelas WAP 1.2.1 Alhasil, tampilannya pun terlihat sederhana, khas banget ponsel merk lokal. Beruntung, keduanya menawarkan pilihan browser yang sedikit lebih baik, yakni Opera Mini.
Seperti kebanyakan ponsel Dual On, kita pun tetap bisa mengatur profile penggunaan browser internet menggunakan slot SIM card yang tersedia. Bisa SIM 1 atau SIM 2. Untuk pilihannya, ada di menu setting. Tapi untuk SIM 2-nya, tetap tak bisa memanfaatkan jalur 3G.

Masih seputaran dunia maya, baik IMO maupun Nexian sama-sama dijejali link shortcut untuk masuk ke portal jejaring sosial. Ada Facebook dan Twitter. Lagi-lagi, ini hanya sebuah link akses ke versi mobile, jadi bukan widget aplikasi khusus. Meski begitu, lumayan oke buat memantau status/update konten di Facebook atau Twitter.
Buat yang hobi chatting, jangan khawatir. Di kedua HP sudah ditanamkan aplikasi chat, ada Yahoo Messenger, Skype dan MSN. Sebagai tambahan IMO juga punya IMO Chat, SXMobi UMVChat (video chat) dan Facebook Chat, sedangkan Nexian ada Nexian Messenger.

Fasilitas keren yang 'membonceng' kemampuan 3G di kedua ponsel adalah Video Call. Jika di ponsel lokal menggembar-gemborkan Video chat, di W8000 dan NX-W701 ini merupakan fitur ngobrol interaktif sesungguhnya. Kita benar-benar bisa berinteraksi langsung dengan lawan bicara via video call. Cukup dengan memilihnya di menu call saat ingin melakukan panggilan, dan jika sudah terkoneksi maka akan terbuka tampilan viewer video Call di layar utama. Lagi-lagi, fitur ini Cuma bisa dinikmati melalui slot SIM card utama (SIM 1).

Baca selanjutnya bagian ke 2 : IMO W8000 vs Nexian NX-W701
Selanjutnya...

Langganan Artikel GRATIS

Tulis alamat email di kotak, lalu tekan Subscribe, ikuti petunjuk selanjutnya:

Delivered by FeedBurner

Followers

Blog Direktori

Mobile Phone Blogs - BlogCatalog Blog Directory Directory of Gadgets Blogs Add to Technorati Favorites blog-indonesia.com

Kategori

·         Advertorial

·         Android

·         Android GingerBread

·         Aplikasi Ponsel

·         Apple

·         Audio Video MP3

·         Berita

·         Beyond

·         Blackberry

·         Blackberry Playbook

·         CDMA

·         Compare

·         Download

·         e-Mail

·         Gadget

·         Games Java

·         Games Symbian

·         HTC

·         Huawei

·         IMO

·         Install _ Un-install

·         Internet GPRS

·         iPad 2

·         iPhone

·         Kamera_Video

·         Layar Sentuh

·         LG

·         Motorola

·         Nokia

·         PC Tablet

·         PC_Software

·         PDA/PPC/O2

·         Ponsel Java

·         Proteksi Security

·         Pustaka

·         Qwerty

·         Review

·         S60v5

·         Samsung

·         Service Ponsel

·         Slide Geser

·         Sony Ericsson

·         Symbian Anna

·         Symbian Belle

·         Symbian S60 v3

·         Symbian S60 v5

·         Symbian S60v2

·         Symbian^3

·         Symbian_s60v3

·         Symbian_SE_UIQ2

·         Symbian_SE_UIQ3

·         Tips Tricks

·         Tutorial

·         Virus Symbian

·         ZTE

Arsip Artikel

 
Please Enable JavaScript!
Mohon Aktifkan Javascript![ Enable JavaScript ]